Jangan Mudah Menyerah Siapapun Anda, apapun profesi Anda, Anda harus memperhatikan sifat jangan mudah menyerah. Karena harus Anda sadari bahwa dalam setiap perjalanan hidup, pasti kita akan dihadapakan dengan berbagai masalah, yang kadang-kadang memang sangat berat. Namun, yakinlah bahwa di dalam sebuah masalah yang berat tersebut pasti ada hikmah yang kadang kita tidak akan mengerti sebelum kita menghadapi masalah tersebut. Maka dari itu, hadapi masalah tersebut dengan lapang dan penuh semangat, jangan menjadi orang yang mudah menyerah. Jangan menjadi orang yang manja seperti anak kecil. Contoh sederhana adalah ketika Anda menjadi seorang pedagang dan mendapati barang dagangan Anda tidak laku dijual dalam beberpaa hari lalu kemudian Anda memutuskan berhenti menjadi pedagang begitu saja. Itu adalah contoh sikap mudah menyerah, akan lebih baik jika Anda mengevaluasi terlebih dahulu, apa yang kurang dari dagangan Anda, atau ada cara yang mungkin salah dalam strategi, dan lain-...
Postingan populer dari blog ini
Keajaiban tentu menarik perhatian banyak kalangan, apalagi yang dikatakan bahwa dapat membawa rezeki dan melancarkan usaha. Fenomena demikian yang belakangan ini hangat dibicarakan oleh segelintir umat Buddha yang kurang memahami Dhamma, mereka kelihatan terlalu mengagungkan orang-orang yang dikatakan memiliki kekuatan gaib dengan harapan dapat menambah kekayaan dan kejayaan usaha mereka. Sebenarnya kekuatan gaib bukan hanya dapat dimiliki oleh Arahat atau Buddha, tetapi sebaliknya kekuatan-kekuatan gaib seperti membaca pikiran orang lain, kekuatan telinga dewa dan yang lainnya dapat dimiliki siapa saja yang melatih vipassana hingga mencapai jhana tertentu. Oleh sebab itu, siapa saja, dan dari kepercayaan mana saja bisa memiliki kekuatan seperti itu bila mencapai jhana melalui vipassana. Perlu ditekankan disini bahwa melatih vipassana bukan bertujuan untuk menguasai kekuatan gaib, tetapi untuk mengerti akan kebenaran semesta dan pembebasanlah yang dijadikan tujuan dari vipassana. ...
lima dasar moral umat buddha, 1. Agama lain menerima gagasan tentang hal yang benar dan yang salah dari perintah “Tuhan”. Anda umat Buddha, tidak percaya akan Tuhan sebagai suatu pribadi, jadi bagaimana Anda tahu mana yang benar dan mana yang salah? Semua pikiran, ucapan, atau perbuatan yang dilandasi keserakahan, kebencian, dan itikad buruk yang menjauhkan dari pencapaian kesucian – Nibbana, adalah hal yang salah. Sedangkan pikiran, ucapan, atau perbuatan yagn dilandasi cinta kasih, welas asih, dan kebijaksanaan, yang mendukung penyucian jalan ke Nibbana adalah hal yang baik. Dalam agama theosentris, benar salahnya suatu perbuatan biasanya dinilai dari kesesuaiannya dengan perintah Tuhan (yang termaktub dalam kitab suci). Namun dalam agama humanosentris seperti agama Buddha, untuk mengetahui yang baik dan yang buruk, Anda harus mengembangkan pengertian dan kesadaran diri secara mendalam. Tata susila yang didasarkan pada pengertian dan kebijaksanaaan senantiasa lebih ung...
Komentar
Posting Komentar